Fanatisme Beragama Bisa Mengikis Kesatuan Umat

Direktur Pustaka TebuirengRorsyid Murtadho, di Jombang, pada hari Jumat, 28 September 2012 dalam diskusi pemikiran Gus Dur memperingati 1.000 hari wafatnya Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang mengatakan :

Foto Ilustrasi – Sumber, Google

Fanatisme beragama bisa mengikis kesatuan umat, karena umat beragama seharusnya bisa menciptakan toleransi baik pada kelompok sendiri maupun umat beragama lain, tapi dengan fanatisme yang berlebihan justru menciptakan kesenjangan.

Ada semangat gerakan yang secara politis mulai muncul. Banyak gerakan-gerakan baru yang mulai lahir dan ini cukup berbahaya. Uniknya, gerakan ini justru muncul dari luar Indonesia, antara lain Khilafah Islamiyah yang diperjuangkan HIT.

Gerakan ini muncul dan mulai berkembang ke Indonesia. Dalam gerakan ini, dimunculkan konsep pemerintahan yang ideal, padahal dalam Islam memang banyak kelompok. Di Indonesia sendiri, terdapat organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah.

Pihaknya justru prihatin dengan aksi sekelompok orang yang justru bisa mengikis rasa toleransi. Mereka menganggap ajaran mereka yang paling benar.

Selain memicu rasa ketidakadilan sosial, hal ini juga bisa memicu sikap tidak adanya rasa menghargai orang lain.

Bukan hanya pada sesama Muslim, bahkan pada pemeluk agama lain. Ia mendukung sepenuhnya gagasan yang dicetuskan oleh Gus Dur, yang mengusung tentang sikap toleransi, bahkan antarumat beragama. Hal itu berkembang baik selama Gus Dur masih hidup.

Namun, ia prihatin, karena setelah Gus Dur wafat, toleransi umat beragama ini justru seakan terkikis. Pihaknya menilai, pasca wafatnya Gus Dur, ide pemikirannya untuk saling toleransi belum terealisasi dengan baik. Banyak diskusi yang hanya sebatas saling adu argumen saja, tanpa ada realiasi, sehingga masyarakat pun tidak paham tentang toleransi.

Ide-ide Gus Dur harus lebih konkret. Selama ini, pemikiran Gus Dur lebih banyak dibahas pada diskusi dan forum pemikiran bukan tindakan langsung. Justru yang penting adalah membangun kerja sama antar umat beragama.

Toleransi pasca-Gus Dur yang dinilai semakin terkikis juga diungkapkan oleh pimpinan GKJW – Djoko Purwanto.

Pihaknya menilai, saat ini pemerintah masih gagal untuk menciptakan toleransi di masyarakat. Masih banyak terjadi kerusuhan, bahkan sesama saudara sendiri. Kerusuhan yang awalnya keluarga, sampai meluas yang dampaknya kembali lagi, sehingga masyarakat yang menjadi korban.

Urusan akidah, doktrin, serta agama itu adalah urusan masing-masing pemeluk agama dan harus dihormati. Kami prihatin dengan aksi yang terjadi di Indonesia, seperti terorisme. Sudah saatnya, ide Gus Dur untuk menjunjung tinggi toleransi itu diimplementasikan.

Ia juga meminta, agar para elite partai juga lebih memperhatikan masyarakat bawah. Selama ini, mereka lebih memperhatikan kader partai saja, sementara mengabaikan masyarakat umum yang notebene memerlukan perhatian.

Salah seorang peserta, Manfaati, berharap pemikiran Gus Dur itu menjadi sumbangan yang diperhatikan demi tegaknya bangsa Indonesia. Demokrasi di Indonesia harus ditegakkan, dan jangan sampai hanya peduli pada kelompok sendiri.

Sikap saling menghormati, menghargai harus ditegakkan. Demokrasi harus diwujudkan sesuai dengan ideologi bangsa ini, Pancasila. (Editor : Rafans Manado – Sumber, Suara Pembaruan.com  Jumat, 28 September 2012 | 22:25),-

About these ads

One response to “Fanatisme Beragama Bisa Mengikis Kesatuan Umat

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s