Terorisme Di Indonesia : Islam Selalu Tertuduh

Indonesia sering mengalami tindakan aksi teror yang dilakukan oleh para teroris seperti yang terjadi belum lama ini, yakni pertama aksi penembakan di Pospam Simpang Gemblengan pada Jumat (17/8/2012). Kedua, di Bundaran Gladak, Jalan Jenderal Sudirman, Sabtu (18/8/2012). Ketiga terjadi di Pos Polisi Singosaren, Jalan Rajiman Serengan, Solo, Kamis (30/8/2012), yang menewaskan seorang anggota kepolisian Bripka Dwi Data Subekti.

Muhammadiyah

Muhammadiyah (Photo credi t: Wikipedia)

Berkaitan dengan itu, dalam diskusi bersama tokoh nasional di kantor PP Muhammadiyah Jakarta pada hari Kamis (6/9/2012), Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah – Din Syamsuddin meminta aksi terorisme tidak dikaitkan dengan Islam. Dia mengingatkan bahwa setiap agama di dunia, termasuk Islam, mengharamkan setiap perbuatan teror.

Seharusnya polisi dapat menegakkan hukum dengan menangkap pelaku hidup-hidup, agar dalang intelektual aksi teror dapat dibekuk aparat keamanan.

Proses hukum pelaku teror harus ditegakkan. Jangan kaitkan terorisme dengan agama, yaitu Islam. Selama masih mengaitkan dengan Islam, kasus terorisme tidak dapat ditangani pemerintah.

Terorisme merupakan ancaman untuk bangsa Indonesia. Din Syamsuddin mempertanyakan aksi terorisme yang terus hadir di Indonesia, sementara di negara lain aksi terorisme dapat dibasmi. Dia pun menyebut ada yang tidak beres dengan kinerja Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ironisnya, Islam selalu menjadi tertuduh. Saya juga heran atas kinerja BNPT yang mendapatkan banyak dana dari pemerintah untuk menanggulangi aksi teror. Kok masih ada terorisme ? Hal ini akan membawa kita pada introspeksi, berarti ada cara penanganan yang belum tepat untuk menanggulangi terorisme.

Din Syamsuddin mengungkapkan, selama ini pemimpin organisasi keagamaan telah memerankan perannya untuk berdakwah mengenai rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Sementara BNPT dan Polri tidak bekerja dengan sungguh-sungguh mengingat telah ada data tentang lingkaran teroris.  Data yang telah dikantongi oleh BNPT maupun Kepolisian seharusnya dapat ditindaklanjuti dengan menangkap semua pelaku teror. Yang mati itu kroco-kroconya, sementara aktor sebenarnya tidak pernah diusut. Ini yang membawa asusmsi dari masyarakat adanya konspirasi.

Din menanggapi juga adanya teori konspirasi di kalangan masyarakat. Menurutnya, hal tersebut masuk akal dalam rangka menjatuhkan umat Islam Indonesia. Konspirasi yang dimaksud, yakni intelijen dari berbagai negara berperan mengacaukan kondisi Indonesia dengan membawa nama Islam sebagai agama yang memiliki pemeluk terbesar. Hal tersebut, diakuinya sulit dibuktikan, namun dapat dirasakan oleh masyarakat.

Dia mencontohkan aksi teror di Indonesia terjadi secara berulang-ulang saat ada kedatangan tokoh penting, atau kasus skandal korupsi yang menyita perhatian publik. Menurutnya, sangat masuk akal jika aksi teror sebagai upaya pihak tidak bertanggung jawab untuk mengalihkan isu.

Menurut Din, selama pelaku teroris mati terbunuh atau yang ditangkap tetapi tidak ada penyelesaian hukum yang transparan, maka dalang teroris tidak akan terkuak. Selama tokoh utama terorisme tidak dapat ditangkap, diadili dan ditanya maka terorisme akan terus tumbuh lagi. (Sumber : Kompas.com – Kamis, 6 September 2012 | 19:59 WIB),-

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda Disini :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s